Letak secara astronomis memengaruhi kondisi alam Indonesia seperti pembagian zona waktu, keanekaragaman flora dan fauna, dan iklim di Indonesia. Letak secara geografis menyebabkan Indonesia berada di posisi strategis lalu lintas dunia. Tak hanya itu, letak secara geologis Indonesia juga berpengaruh pada kondisi topografi, keberadaan gunung berapi aktif, dan sumber daya alam di Indonesia. Secara umum posisi Indonesia sangat strategis, ini dlihat dari posisi astronomis terletak pada daerah tropis (khatulistiwa) sehingga menguntungkan pada kehidupan penduduk dan kondisi iklim, secara geografis Indonesia berada di antara 6°LU (Lintang Utara) -11°LS (Lintang Selatan) dan 95°BT (Bujur Timur) 141°BT (Bujur Timur) dan diantara dua benua (Asia & Australia) & dua samudera (Hindia & Pasifik) sehingga Indonesia terletak pada poros maritime dunia yang berpengaruh pada jalur perdagangan dan pelayaran dunia Internasional. Indonesia adalah Negara kepulauan yang membujur dari Sabang (aceh) hingga ke Merauke dengan beberapa pulau dan laut utamanya yang masing-masingnya memiliki luas. Berdasarkan letak astronomis, pulau-pulau Indonesia terbagi menjadi dua sisi yaitu bagian atas (belahan bumi utara) dan bawah (belahan bumi selatan). Terbaginya dua sisi ini dikarenakan adanya garis khatulistiwa (garis equator atau zero latitude). Pulau besar yang dilintasi garis khatulistiwa adalah Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatra. Garis khatulistiwa melewati Pulau Waigeo di Papua Barat, Pulau Halmahera di Maluku Utara, Sulawesi, Kota Bonjol di Sumatra Barat, Kota Pontianak di Kalimantan Barat, Kalimantan tengah, Kalimantan Timur, dan Kepulauan Batu di Sumatra Utara. Namun secara keseluruhan, sebagian besar wilayah Indonesia berada pada belahan bumi selatan. Perhatikan letak astronomis Indonesia pada. Sebagai negara dengan karakteristik daratan dan peraiaran Indonesia memiliki batas darat dan laut terhadap wilayah (negara) lain didunia. Indonesia yang terletak pada poros maritime dunia telah sejak lama melakukan perdagangan dengan dunia luar melalui pelayaran laut yang dimulai oleh kerajaan kerajaan nusatara. Sebagai negara kepulauan dimana hampir dua pertiga wilayah Indonesia adalah laut dan terletatak pada poros maritime dunia maka pembangunan transportasi laut harus dikembangkan untuk menghubungkan wilayah utara keselatan dari barat ke Timur, salah satu program pemerintah adalah melalui Tol Laut, disamping itu juga pengembangan dan pemanfaatan potensi laut yang ada juga harus terus ditingkatkan.
1. Letak Strategis Indonesia secara Astronomis, Geografis, Geologis.
A. Letak Astronomis Indonesia.
Keuntungan dari letak astronomis tersebut ialah Indonesia memiliki hutan hujan tropis yang luas. Keberadaan hutan hujan tropis bermanfaat dalam menyuplai oksigen yang dibutuhkan untuk mengurangi pemanasan global. Selain itu, hutan hujan tropis juga merupakan habitat ideal bagi flora dan fauna. Indonesia memiliki habitat flora dan fauna yang beraneka ragam. Keuntungan lain dari letak astronomis untuk Indonesia adalah tersedianya lahan pertanian dan perkebunan yang luas. Lahan pertanian tersebut sangat penting untuk menghasilkan berbagai jenis komoditas pangan bagi penduduk Indonesia yang jumlahnya lebih dari seperempat miliar.
B. Letak Geografis Indonesia.
1. Pengertian Letak Indonesia Secara Geografis
Letak secara geografis dapat disebut sebagai letak relatif. Indonesia secara geografis terletak di antara dua benua dan dua samudra. Dua benua yang mengapit Indonesia yaitu Benua Asia (di sebelah utara) dan Benua Australia (di sebelah selatan). Dua samudra yang mengapit Indonesia adalah Samudra Pasifik (di sebelah timur) dan Samudra Hindia (di sebelah barat dan selatan).
Tidak menutup kemungkinan apabila letak Indonesia dapat berubah di masa depan, karena hal ini bergantung pada aktivitas tektonisme. Letak Indonesia secara geografis dapat dilihat pada gambar pada link (https://share.google/images/EGv8Qp9lC0WIk190k)
2. Pengaruh Letak Indonesia Secara Geografis Terhadap Iklim
Letak geografis memengaruhi musim di Indonesia. Indonesia memiliki dua musim yaitu musim penghujan dan kemarau. Kedua musim ini terjadi karena pengaruh angin muson barat laut dan angin muson tenggara. Angin muson barat membuat laut bersifat basah dan mengandung banyak uap air laut, sehingga mendatangkan musim hujan. Sedangkan angin muson tenggara bersifat kering sehingga mendatangkan musim kemarau. Gerakan angin muson tersebut dapat dilihat pada Gambar berikut (https://share.google/images/pEe6sZAfFerIJ7QyU)
Perubahan musim perlu dikaji lebih lanjut karena sangat memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat. Contohnya fluktuasi temperatur dan CO-diudarayang kemudian mengubah kenyamanan manusia. Perubahan iklim juga berdampak terhadap peningkatan terjadinya bencana hidrometeorologi (cuaca ekstrem). Berbagai upaya untuk mengatasi perubahan iklim melalui pengurangan emisi perlu dilakukan secara integrasi dari berbagai pihak. Upaya ini bertujuan meninggalkan warisan lingkungan yang baik untuk anak cucu kita di kemudian hari.
Kondisi musim global diwarnai oleh adanya fenomena La Nina pada tahun 2020 (Kompas, 2021). BMKG telah merilis informasi aktifnya La Nina dan diperkirakan akan mencapai intensitas La Nina Moderate sampai dengan awal tahun 2021. Keberadaan La Nina Moderate ini memberikan dampak peningkatan curah hujan di beberapa wilayah di Indonesia. Tahun 2020 juga mencatatkan suhu tertinggi kedua selama 40 tahun terakhir, terpanas pertama. di tahun 2016 saat terjadi El Nino Kuat. Selain itu, tahun 2020 menjadi tahun ketiga terbasah selama 20 tahun terakhir. Musim kemarau tahun 2020 lebih pendek dibandingkan normalnya (Kompas, 2021). Prospek iklim tahun 2021, pada semester pertama diperkirakan La Nina akan berlanjut dan diperkirakan berakhir pada April-Mei. Selain itu, kondisi IOD (Indian Ocean Dipole) diperkirakan tetap netral.
Kajian curah hujan di Indonesia juga perlu analisis lebih lanjut. Perhatikanlah Gambar 1.8 tentang peta tren curah hujan Indonesia! (Jika peta kurang jelas dapat mengunjungi tautan ini (https://www. bmkg.go.id/iklim/?p=tren-curah-hujan). Peta tersebut diperoleh dengan menggunakan data observasi BMKG tahun 1981-2018. Tren hari hujan ini disajikan dalam empat (4) kategori, yaitu hari hujan dengan intensitas di atas 1, 20, 50, dan 100 mm/hari dalam setahun. Secara umum, hari hujan Indonesia memiliki tren yang bernilai positif walaupun di beberapa wilayah bernilai negatif dengan besaran yang bervariasi. Contohnya yaitu di Stasiun Meteorologi Hasanudin Makasar yang memiliki tren positif pada semua besaran intensitas hujannya. Untuk intensitas hujan 20 mm/hari (warna hijau) terlihat dari persamaan tren memiliki nilai slope sebesar 0.1149 yang berarti hari hujan dengan intensitas 20 mm/hari cenderung bertambah sebanyak 0.1149 hari setiap tahunnya atau 1.149 hari setiap dekade.
3. Keuntungan Letak secara Geografis
- Berada di Lintas Perdagangan Internasional
Indonesia terletak di jalur pelayaran dan perdagangan negara-negara di dunia. Posisi ini dilihat dari letak Indonesia yang berada di antara dua samudra dan dua benua yang menjadi tempat lalu lintas perdagangan internasional. Titik persilangan kegiatan perekonomian yang berada di Indonesia ini sebagai lokasi perdagangan negara berkembang dengan negara industri. Negara-negara ini seperti Eropa, Afrika, Asia dengan RRC, Korea, dan Jepang.
- Indonesia Menjadi Negara Agraris.
Indonesia dilalui dua angin muson yang dipengaruhi oleh penguapan samudra pasifik dan samudra hindia. Benua Australia dan Asia yang dipisahkan garis equator memengaruhi laju angin muson. Hal ini menyebabkan terbentuknya dua musim di Indonesia yang bergantian 6 bulan sekali meliputi musim penghujan dan kemarau. Adanya musim ini memberikan pengaruh pada sektor pertanian. Suburnya tanah Indonesia sangat cocok untuk bidang pertanian seperti sayuran, kentang, padi, ketela, ubi, kacang-kacangan, dan lainnya.
- Ketersediaan Tanah yang Subur
Curah hujan yang tinggi dan banyaknya intensitas sinar matahari menyebabkan kesuburan tanah di Indonesia. Posisi Indonesia pada Cincin Api Pasifik juga mendukung banyaknya material yang dikeluarkan dari aktivitas vulkanik sehingga menyebabkan tanah menjadi subur. Kesuburan tanah yang tinggi ini sangat mendukung kegiatan pertanian di Indonesia.
- Keberagaman Budaya yang Tinggi
Posisi lalu lintas internasional mengakibatkan banyaknya kapal-kapal negara luar singgah di Indonesia. Hal ini mengakibatkan terjadinya proses akulturasi budaya dan suku bangsa, sehingga memengaruhi keberagaman budaya di Indonesia. Kondisi tersebut memberikan keuntungan dalam segi sosial-budaya. Kekayaan dan keragaman budaya di Indonesia menjadi potensi dalam bidang pariwisata maupun sektor lainnya.
- Memiliki Banyak Destinasi Wisata Alam yang Indah.
Indonesia memiliki banyak objek wisata alam mulai dari air terjun, gunung. sungai, hingga pantai. Keuntungan ini diakibatkan kondisi dua musim di Indonesia yang memberikan dampak kondisi fisik wilayah Indonesia.
C. Letak Geologis Indonesia.
Pengertian Letak Geologis
Letak suatu wilayah yang didasarkan oleh struktur batu-batuan di dalam bumi serta fenomena geologi di wilayah tersebut disebut dengan letak geo-logis. Letak geologis juga berkaitan dengan posisi wilayah terhadap lempeng tektonik. Berdasarkan letaknya secara geologis, Indonesia dilalui oleh dua pe-gunungan muda, yakni pegunungan sirkum Mediterania di bagian barat dan pegunungan sirkum Pasifik di bagian tengah dan timur.
Pegunungan Sirkum Mediterania merupakan hasil dari aktivitas tektonik lempeng yang bergerak ke arah utara. Pegunungan Sirkum Mediterania memanjang dari Pegunungan Alpen di Eropa, Pegunungan Himalaya di Asia, sampai deretan pegunungan di Pulau Sumatra dan Jawa. Pegunungan Sirkum Pasifik yang dikenal dengan daerah Cincin Api Pasifik merupakan hasil pergerakan ke arah timur dari aktivitas tektonik pada Lempeng Pasifik yang akhirnya mendorong lempeng di sekitarnya. Pegunungan Sirkum Pasifik memanjang dari Amerika hingga Selandia Baru, tepatnya mulai dari Pegunungan Andes di Amerika Selatan, Amerika Utara, kemudian Jepang, Filipina, lalu Sulawesi, Banda, dan berlanjut hingga Selandia Baru.
Indonesia terletak di antara tiga lempeng dunia, yakni satu lempeng samudra dan dua lempeng benua. Lempeng samudra tersebut adalah lempeng Samudra Pasifik yang berada di sebelah utara-timur Indonesia. Dua lempeng benua yang dimaksud adalah Lempeng Benua Eurasia dan Lempeng Benua Indo-Australia. Lempeng Benua Eurasia terletak di utara-barat laut Indonesia yang terdiri atas Benua Eropa dan Asia. Lempeng Benua Indo-Australia terletak di selatan-barat Indonesia, lempeng benua ini terdiri atas Benua Australia dan Samudra Hindia.
Ketiga lempeng dunia yang berada di sekeliling Indonesia saling bertumbukan. Di bagian barat, terdapat tumbukan antara Lempeng Eurasia dengan Lempeng Indo-Australia dan di bagian timur terdapat tumbukan antara Lempeng Indo-Australia, Lempeng Pasifik, serta Lempeng Eurasia. Hal tersebut terjadi karena adanya pergeseran Lempeng Pasifik dan Indo-Australia menuju Lempeng Eurasia. Selanjutnya, Lempeng Pasifik terus mengalami pergerakan dari arah barat ke timur, sedangkan Lempeng Indo-Australia selalu bergerak menuju utara. Kedua lempeng tersebut menekan Lempeng Eurasia sehingga terjadi tumbukan antara ketiga lempeng yang sering kali memicu terjadi gempa bumi.
Indonesia terletak di antara dua paparan atau dangkalan. Dangkalan me-rupakan wilayah laut dangkal yang menghubungkan wilayah daratan yang besar. Wilayah daratan yang dimaksud dapat berupa negara, kawasan, mau-pun benua. Indonesia terletak di antara paparan Sunda dan paparan Sahul.
Di bagian barat Indonesia terdapat paparan Sunda yang termasuk pada bagian tenggara dari Lempeng Eurasia dan terdiri atas pulau serta kawasan laut dangkal. Paparan Sunda berhubungan langsung dengan Benua Asia, membentang dari Pulau Kalimantan hingga Pulau Jawa meliputi wilayah Se-menanjung Malaysia, Sumatra, Jawa, Madura, Bali, serta pulau-pulau kecil di sekitarnya. Sedangkan Paparan Sahul terletak di Indonesia bagian timur. Paparan Sahul termasuk bagian dari Lempeng Australia yang juga menghu-bungkan Benua Australia dan Pulau Papua. Paparan Sahul terbentang sangat luas hingga Kalimantan dan Papua bahkan mencakup bagian utara Papua hingga utara Benua Australia.
2. Pengaruh Letak Indonesia Secara Geologis
Seperti yang kalian pernah pelajari, kerak bumi merupakan lapisan terluar dumi sebagai tempat manusia berpijak. Kerak bumi mengambang di atas 'apisan cair yang panas atau yang kita sebut dengan astenosfer. Karena berada di atas lapisan yang bersifat cair maka kerak bumi akan cenderung aktif bergerak yang dapat dijelaskan dengan teori-teori berikut.
Menurut teori lempeng tektonik atau "Continental Drift" yang dikemukakan oleh Alfred Wegener seorang pakar meteorologi geofisika, bahwa berdasarkan penampakan geografis benua-benua di dunia dan temuan paleontologi, kerak bumi terdiri atas lempeng-lempeng yang mengapung di atas massa cair. Berdasarkan teori tersebut dapat diketahui bahwa Bumi merupakan planet yang dinamis…
Indonesia merupakan negara kepulauan yang berada di antara tiga lempeng tektonik dunia yakni lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Di lepas pantai Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara terjadi tumbukan antara Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia, sedangkan di wilayah Papua dan Maluku utara terdapat tumbukan antara lempeng Indo-Australia dengan lempeng Pasifik. Adanya tumbukan antar ketiga lempeng tersebut menyebabkan timbulnya kontur tanah dan relief yang bervariasi di Indonesia. Tak hanya itu tumbukan tersebut juga menyebabkan Indonesia memiliki banyak gunung api, baik yang aktif maupun tidak aktif, serta mengakibatkan terjadinya gempa tektonik di Indonesia.
A. Membentuk Rangkaian Pegunungan
Aktivitas pergerakan lempeng-lempeng tektonik dapat mengakibatkan terbentuknya rangkaian pegunungan di dunia. Adanya proses tektonik lempeng dari zaman mesozoikum hingga saat ini membentuk Rangkaian Pegunungan Sirkum Mediterania dan Rangkaian Pegunungan Sirkum Pasifik. Oleh sebab itu Indonesia yang berada di antara kedua rangkaian pegunungan tersebut dapat memiliki banyak gunung aktif dan tidak aktif yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Rangkaian Pegunungan Sirkum Mediterania terbentuk dari proses tektonik, yaitu bergeraknya Lempeng Gondwana menuju arah utara sehingga bertumbukan dengan Lempeng Eurasia yang mengakibatkan tertutupnya area Laut Tethys dan terbentuk rangkaian Pegunungan Sirkum Mediterania. Rangkaian pegunungan tersebut memanjang dari Afrika Utara tepatnya di Pegunungan Atlas yang berada di Maroko menuju Pegunungan Alpen di Swiss, selanjutnya memasuki wilayah Asia dan membentuk Pegunungan Asia Tengah dan berbelok ke selatan memasuki wilayah Indonesia seperti Pulau Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku yang sejajar dengan zona subduksi Lempeng Indo-Australia. Adanya Rangkaian Pegunungan Sirkum Mediterania di Indonesia membentuk dua busur pegunungan, yakni busur dalam (inner arc) dan busur luar (outer arc).
Busur dalam atau inner art bersifat aktif (vulkanik). Hal tersebut dikarenakan pegunungan busur dalam berhubungan langsung dengan proses subduksi, dimana lempeng menunjam ke dalam perut bumi, kemudian meleleh menjadi magma dan gunung api aktif. Pegunungan busur dalam memanjang dari Bukit Barisan di Pulau Sumatra, menuju Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Maluku membentuk jalur gunung api. Gunung api yang termasuk dalam busur dalam di Indonesia antara lain Gunung Leuser, Gunung Krakatau, Gunung Merapi, Gunung Bromo, Gunung Semeru, Gunung Agung, dan Gunung Rinjani.
Berbeda dengan busur dalam (inner arc), pegunungan busur luar (outer arc) bersifat tidak aktif. Hal tersebut dikarenakan gunung- gunung yang termasuk busur luar merupakan rangkaian pegunungan lipatan akibat dari tumbukan tepi lempeng. Di Indonesia, pegunungan busur luar dapat ditemukan di Pulau Simeulue, Nias, Enggano, dan Kepulauan Mentawai. Selanjutnya gunung-gunung tersebut memanjang membentuk jalur pegunungan di dasar laut pantai barat Pulau Sumatra hingga pantai selatan di Pulau Jawa. Kemudian gunung-gunung busur luar tersebut kembali muncul ke permukaan di daratan Pulau Sawu, Rote, Timor, Babar, Kepulauan Kei, Pulau Seram, dan Pulau Buru.
Rangkaian Pegunungan Sirkum Pasifik terbentuk dari proses aktivitas tektonik yang memanjang di batas Lempeng Pasifik yang bertumbukan dengan lempeng-lempeng di sekitarnya. Oleh karena itu, terbentuklah Cincin Api Pasifik yang terdiri atas 425 gunung berapi aktif dan dorman. Cincin api pasifik tersebut berbentuk seperti tapal kuda. Gunung api yang ada di Indonesia juga menjadi bagian dari Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire).
Jalur dari Rangkaian Pegunungan Sirkum Pasifik memanjang dari Pe-gunungan Andes yang berada di Amerika Selatan, kemudian melalui Amerika Utara tepatnya di Pegunungan Rocky yang bersambung menuju Kepulauan Jepang. Selanjutnya rangkaian pegunungan tersebut bersambung dengan pe-gunungan Filipina dan menuju Indonesia hingga ke pegunungan di Selandia Baru. Di Indonesia, Rangkaian Pegunungan Sirkum Pasifik bercabang men-jadi dua rangkaian yang sama-sama berawal dari Pulau Luzon. Cabang Sir-kum Pasifik yang pertama memanjang dari Pulau Luzon, Pulau Palawan, dan Kepulauan Sulu menjadi pegunungan di Kalimantan, dimana di wilayah Ka-limantan tidak terdapat gunung api yang aktif. Cabang Sirkum Pasifik yang kedua memanjang dari Pulau Luzon menuju ke Samar, Mindanao, Kepulauan Sangihe, dan Pulau Sulawesi, selanjutnya menyambung ke Busur Papua berte-pat di Halmahera dan Pulau Papua. Busur Papua merupakan hasil tumbukan antara Lempeng Australia dengan Lempeng Pasifik.
Seperti yang kalian ketahui, letak geologis Indonesia berada di antara Rangkaian Pegunungan Sirkum Mediterania dan Sirkum Pasifik yang menga-kibatkan Indonesia memiliki banyak gunung api yang aktif. Terdapat 127 gunung berapi yang aktif di Indonesia, artinya sebanyak 13% dari jumlah gunung aktif dunia berada di Indonesia. Gunung berapi aktif tersebut terse-bar di Indonesia dari Sumatra, Jawa, sampai Laut Banda.
Pulau Sumatra memiliki rangkaian gunung berapi aktif, yaitu pegunu-ngan Bukit Barisan. Rangkaian pegunungan tersebut membentang dari utara hingga selatan sepanjang 1700 km. Terbentuknya pegunungan Bukit Barisan diakibatkan oleh pergerakan dari Lempeng Indo-Australia. Pegunungan ini terdiri atas 30 gunung berapi yang aktif seperti Gunung Weh, Gunung Sina-bung, Gunung Toba, Gunung Kerinci, dan Gunung Singgalang.
Pulau Jawa yang memiliki ukuran lebih kecil daripada Pulau Sumatra memiliki konsentrasi gunung api aktif yang tinggi. Di Pulau Jawa terdapat 35 gunung api yang aktif. Dimana empat di antaranya termasuk pada gunung berapi yang paling aktif di Pulau Jawa dengan letak yang saling berdekatan. Gunung- gunung tersebut antara lain Gunung Bromo, Semeru, Merapi, dan Kelud. Pada tahun 1883 terjadi letusan besar Gunung Krakatau hingga memusnahkan dua per tiga pulau dengan menyisakan kaldera besar yang terdapat di bawah laut. Gunung berapi lainnya yang ada di Jawa antara lain Gunung Salak, Gunung Ijen, Gunung Papandayan, Gunung Raung, dan Gunung Lawu.
Indonesia memiliki pulau-pulau kecil seperti Pulau Bali dan pulau-pulau lain di Nusa Tenggara yang disebut dengan kepulauan Sunda Kecil. Di wilayah kepulauan tersebut terdapat 30 gunung berapi aktif. Terbentuknya gunung berapi yang aktif di wilayah ini disebabkan oleh kerak samudra dan pergerakan landas benua. Salah satu gunung berapi aktif yang ada di kepulauan Sunda Kecil ialah Gunung Tambora. Gunung Tambora terletak di Sumbawa, gunung ini pernah meletus pada 5 April 1815 dengan skala letusan 7 VEI (Vulcanic Explosive Index). Akibat letusan ini, Gunung Tambora tercatat sebagai gunung dengan letusan terhebat dalam catatan sejarah. Beberapa gunung berapi aktif selain Gunung Tambora yang berada di wilayah ini ialah Gunung Agung, Gunung Batur, Gunung Rinjani, Gunung Kelimutu, dan Gunung Sirung. Indonesia memiliki gunung api laut yang terletak di wilayah Kepulauan Maluku dan Sulawesi. Di Kepulauan Maluku terdapat 16 gunung berapi yang aktif. Gunung api di wilayah tersebut umumnya berupa pulau-pulau dan beberapa gunung api bawah laut. Beberapa gunung berapi aktif yang ada di Kepulauan Maluku ialah Gunung Nieuwerkerk, Gunung api Wetar, Gunung Teon, dan Gunung Serua. Sedangkan di Sulawesi terdapat 18 gunung berapi yang aktif. Beberapa contoh gunung api aktif yang ada di Sulawesi antara lain Gunung Mahawu, Gunung Klabat, Gunung Tangkoko, dan Gunung Banua Wuhu.
B. Terbangun Topografi yang Bervariasi
Indonesia memiliki topografi yang beragam. Topografi dapat terbentuk dari tenaga dalam bumi (endogen) dan tenaga luar bumi (eksogen). Tenaga endogen dipengaruhi oleh kondisi geologis Indonesia, sedangkan tenaga eksogen dipengaruhi tenaga matahari, air dan angin. Sebagai akibat dari kedua tenaga tersebut, Indonesia memiliki topografi yang beragam, di antaranya dataran rendah, dataran tinggi, gunung, serta pegunungan.
Dataran rendah merupakan relief dari daratan yang memiliki ketinggian kurang dari 200 mdpl. Perbedaan ketinggian di wilayah dataran rendah pada umumnya tidak terlalu berbeda dari satu tempat dengan tempat lainnya. Dataran rendah sering disebut dengan dataran aluvial. Dataran rendah terbentuk dari hasil sedimentasi atau pengendapan material-material yang dibawa oleh sungai menuju muara. Oleh sebab itu, kita banyak menemui dataran rendah di wilayah muara sungai-sungai besar di Indonesia.
Daerah di Indonesia yang termasuk pada dataran rendah ialah bagian timur Pulau Sumatra yakni dari wilayah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) hingga provinsi Lampung, selanjutnya di bagian utara, barat, selatan, dan timur dari Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, dan bagian barat, selatan, dan utara Pulau Papua. Topografi dataran rendah dapat memengaruhi iklim di Indonesia yakni membentuk iklim dataran rendah. Iklim dataran rendah terdapat pada kawasan dataran rendah yang berada pada kawasan tropis, ciri dari iklim ini ialah memiliki variasi suhu harian yang tinggi serta curah hujan sedikit dengan waktu singkat.
Dataran dengan ketinggian 200-1000 mdpl dengan relief yang relatif landai tergolong dalam dataran tinggi atau plateau. Dataran tinggi ini terbentuk dari proses eksogen dan endogen. Dataran tinggi yang terbentuk dari proses vulkanisme memiliki kesuburan tanah yang tinggi sehingga banyak sayuran yang dapat dihasilkan oleh petani dari wilayah dataran tinggi tersebut.
Topografi dataran tinggi dapat mengakibatkan terbentuknya iklim dataran tinggi. Iklim dataran tinggi dicirikan dengan variasi suhu tahunan dan harian yang tinggi, kelembaban udara yang rendah, tekanan udara yang rendah, serta sinar matahari yang terik. Di Indonesia wilayah yang termasuk pada dataran tinggi ialah Batu di Jawa Timur, Bandung di Jawa Barat, Brastagi yang berada di Provinsi Sumatra Utara, dan Gayo yang terletak di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Bentang alam berupa dataran tinggi ini dapat membentuk iklim dataran tinggi di Indonesia.
Topografi di Indonesia selain berupa dataran rendah dan tinggi juga terdapat topografi atau relief berupa gunung dan pegunungan. Gunung merupakan relief permukaan bumi yang berupa cembungan dan pada umumnya terbentuk dari proses vulkanisme dan tektonisme. Vulkanisme ialah peristiwa naiknya magma yang ada di dalam perut bumi menuju ke permukaan bumi, sedangkan tektonisme merupakan proses pergerakan lempeng bumi yang menyebabkan terjadinya patahan dan lipatan di permukaan bumi.
Pegunungan merupakan barisan atau kumpulan dari beberapa gunung. Kawasan pegunungan memiliki kemiringan lereng yang lebih besar daripada daratan dengan ketinggian di atas 1000 meter. Selain pegunungan, kalian juga mengenal istilah perbukitan. Perbukitan merupakan daerah yang memiliki ketinggian antara 500 sampai 750 mdpl dengan kemiringan lereng yang hampir sama dengan pegunungan. Seperti yang kita ketahui pegunungan di Indonesia terbentuk dari tenaga endogen akibat letak geologis Indonesia. Iklim yang dapat terbentuk di daerah pegunungan adalah iklim pegunungan yang dicirikan dengan variasi suhu udara yang rendah, adanya hujan yang terjadi di lereng bagian depan dan terdapat sedikit di daerah bayangan hujan, serta terkadang banyak turun salju seperti di daerah Puncak Jaya Wijaya.
Selain memiliki topografi berupa dataran dan pegunungan, Indonesia juga memiliki topografi berupa daerah pantai. Indonesia merupakan negara kepulauan dengan sebutan sebagai negara maritim. Hal itu dikarenakan Indonesia memiliki wilayah perairan yang cukup luas. Indonesia juga merupakan negara kedua dengan garis pantai terpanjang di dunia. Daerah pantai adalah daerah pertemuan antara perairan yang luas dapat berupa laut dan lautan dengan wilayah daratan. Daerah pantai jika bertemu dengan daratan yang rendah akan membentuk wilayah pantai yang landai. Sedangkan daerah pantai yang bertemu dengan tebing yang curam akan membentuk wilayah pantai terjal atau disebut cliff.
Daerah pantai dapat dibagi menjadi dua zona, yakni zona daerah pantai yang selalu kering berupa daratan atau selalu basah berupa laut, dan zona neritis atau daerah pesisir yakni zona yang terkadang kering sehingga menjadi daratan serta terkadang basah tertutup air. Topografi daerah pantai dapat membentuk iklim maritim karena iklim ini terdapat pada kawasan tropis dan subtropis yang dikelilingi oleh laut maupun lautan. Pada daerah tropis seperti Indonesia iklim maritim memiliki ciri variasi suhu rata rata tahunan yang sedikit, sering terjadi hujan lebat yang disertai dengan badai, serta terdapat banyak awan di daerah tersebut.
C. Memunculkan Peristiwa Gempa
Gempa bumi tektonik merupakan gempa bumi yang terjadi akibat dari proses pelepasan tenaga dari bumi karena pergeseran lempeng tektonik. Gempa tektonik termasuk dalam gempa yang paling besar dampaknya karena dampak yang dirasakan bisa mencakup wilayah yang sangat luas. Gempa ini sering terjadi di dunia, bahkan 95% peristiwa gempa di seluruh dunia merupakan gempa tektonik. Salah satu peristiwa tektonisme yang dapat menimbulkan gempa bumi ialah peristiwa patahan atau dislokasi. Peristiwa patahan dapat menyebabkan gelombang getaran yang merambat ke segala arah melalui materi penyusun bumi sehingga dapat menghancurkan bagian permukaan bumi yang tidak dapat menahannya.
Sebagai negara yang terletak di antara tiga lempeng tektonik dunia yang terus mengalami pergerakan, maka Indonesia sering mengalami peristiwa gempa tektonik. Gempa tektonik tersebut tak jarang menimbulkan korban jiwa dan kerusakan. Berdasarkan data gempa bumi yang terjadi dalam kurun waktu tahun 2009 hingga 2019 tercatat sebanyak 71.628 kejadian gempa di Indonesia. Jika di rata-rata, wilayah Indonesia berpotensi mengalami gempa bumi sebanyak 6.512 kali per tahunnya, 543 kali per bulan, dan 18 kejadian gempa per harinya. Provinsi Maluku menjadi provinsi dengan kejadian gempa bumi terbanyak, diikuti dengan provinsi Sulawesi Tengah, kemudian Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat, dan dilanjutkan dengan Nusa Tenggara Timur. Sementara itu, Kalimantan termasuk pada wilayah Indonesia yang jarang mengalami gempa bumi. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2020 di Indonesia tercatat sebanyak 29 kejadian gempa bumi.
3. Pengelolaan Potensi Geografis Indonesia
Aspek geografis Indonesia dapat memengaruhi potensi sumber daya di Indonesia. Sebagai negara beriklim tropis, tentunya Indonesia memiliki potensi dalam bidang pertanian. Tak hanya itu, aspek geografis juga menjadikan Indonesia memiliki potensi sumber daya laut dan darat yang perlu dikelola dengan baik. Pemanfaatan sumber daya alam yang baik dapat mengurangi risiko kerusakan lingkungan.
Indonesia memiliki potensi alam dalam bidang pertanian yang tinggi. Tingginya potensi pertanian tersebut dikarenakan suburnya wilayah daratan Indonesia. Hal itu dapat terjadi karena wilayah daratan Indonesia yang banyak dilalui oleh pegunungan. Potensi sumberdaya pertanian tersebut dapat menjadi sumber daya alam pertanian yang besar sehingga Indonesia juga disebut sebagai negara agraris.
Indonesia memiliki potensi pertanian yang besar, namun belum terkelola secara optimal. Impor bahan pangan masih sering terjadi, seperti beras, gula, dan buah-buahan dari Thailand. Oleh karena itu, jika pemanfaatan potensi pertanian dapat dioptimalkan, maka impor bahan pangan dapat dikendalikan atau bahkan dihentikan, dan ketahanan pangan di Indonesia akan maksimal.
Selain pemanfaatan pertanian belum optimal, aktivitas bisnis dan pembangunan industri di Indonesia cenderung bergerak di Pulau Jawa dan Sumatra. Industri manufaktur di Indonesia secara spasial cenderung terkonsentrasi di Pulau Jawa dengan penyumbang tenaga kerja sektor industri sebanyak 78-82%. Pulau Sumatra menyerap sebanyak 12% tenaga kerja bidang industri, dan di Kalimantan serta pulau-pulau lainnya masih sedikit yang berperan dalam bidang industri.
Pengetahuan terkait kondisi geografis menjadi hal yang penting dalam pembangunan pengembangan industri untuk mengetahui ketersediaan bahan baku atau sumber daya yang akan diolah. Zonasi potensi geografis dapat mempermudah pembangunan dan pengembangan industri. Dengan mengetahui potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia di setiap wilayah, maka pembangunan sektoral dapat diarahkan ke wilayah yang tertinggal seperti zona Maluku dan Nusa Tenggara. Selain itu, dengan adanya zona potensi geografis pengelolaan sumber daya alam dapat diarahkan dengan baik dan benar, sehingga risiko kerusakan lingkungan dan bencana alam dapat diminimalisir.
2. Dampak Positif dan Negatif Wilayah Strategis Indonesia.
1. Dampak Positif
- Tidak terjadi perubahan suhu yang ekstrim di Indonesia.
- Jumlah penguapan suhu udara yang selalu tinggi.
- Memiliki berbagai macam jenis flora dan fauna.
- Menjadi pusat pertemuan jalur perdagangan Internasional.
- Kaya akan sumber daya alam.
- Hanya memiliki dua musim yaitu kemarau dan hujan.
2. Dampak Negatif
- Rawan terjadi bencana alam, seperti gempa bumi, tsunami, dan gunung meletus.
- Menjadi tempat transaksi ilegal dari berbagai macam negara.
- Persaingan dagang yang sengit dengan negara-negara lain.
- Tingkat keamanan di perbatasan wilayah masih rendah.
- Adanya usaha mencuri ikan oleh negara lain di perbatasan wilayah laut Indonesia.
3. Pengaruh Letak Geografis di persimpangan Lalu Lintas Dunia.
Letak Indonesia yang berada di antara dua benua dan dua samudra berpengaruh pada posisi strategis lalu lintas dunia. Indonesia berada pada jalur silang lalu lintas pelayaran dan perdagangan dunia. Kondisi silang tersebut berdampak pada kondisi sosial budaya bangsa Indonesia. Posisi silang tersebut memungkinkan masuknya pengaruh peradaban dan kebudayaan dari negara lain. Masuknya peradaban dan kebudayaan asing menyebabkan tumbuhnya keberagaman budaya di Indonesia. Selain itu, pengaruh letak geografis Indonesia juga berpengaruh terhadap geopolitik. Indonesia memiliki geopolitik yang strategis, karena berada di antara negara-negara besar yang berpengaruh dalam berbagai bidang, seperti perdagangan, teknologi, persenjataan, dan sebagainya. Oleh karena itu, Indonesia harus memiliki kemampuan untuk memanfaatkan posisi tersebut untuk kemajuan bangsa Indonesia.
Jika dilihat dari segi ekonomis, posisi Indonesia dapat memberikan pengaruh besar dalam perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Pemanfaatan posisi strategis Indonesia secara optimal dan konsisten akan berdampak pada tingkat kemakmuran bangsa. Posisi ekonomi yang strategis tersebut dapat mendorong Indonesia sebagai poros maritim dunia.
Poros maritim merupakan wahana strategis untuk mewujudkan perba-ikan transportasi kelautan, keamanan maritim, pengembangan industri per-kanan dan perkapalan, serta terjaminnya konektivitas antar pulau. Terdapat lima pilar dalam poros maritim :
A. Pembangunan kembali budaya maritim indonesia.
B. Komitmen menjaga dan mengelola sumber daya laut dengan membangun kedaulatan pangan laut melalui pengembangan industri perikanan dan menempatkan nelayan sebagai pilar utamanya.
C. Komitmen mendorong pengembangan infrastruktur dan konektivitas maritim dengan membangun tol laut, pelabuhan laut, logistik, industri perkapalan, dan pariwisata maritim.
D. Diplomasi maritim yang mengarahkan program kerjasama dengan mitra dalam bidang kelautan.
E. Pembangunan kekuatan pertahanan maritim.